Kini matahari sudah mau meninggalkan tempatnya, dan aku yang kini masih menatapnya mulai kehilangan sinarnya dari pandanganku, hari sudah senja tapi aku masih diam terpaku membiarkan waktu itu berlalu begitu cepat. Mungkin sedikit lagi akan kau dengar suara jangkrik mengisi malam ini yang begitu sunyi.
Keadaan, keadaan yang membawaku kesini dimana tak ada lagi bisingnya kendaraan yang lewat tak ada lagi suara canda ria teman2ku, mungkin untuk sementara atau selamanya ! Rasa bosan sudah mulai menghampiriku tak ada hari tanpa obat yang selalu menjadi sahabat dalam tubuhku, sulit rasanya untuk menerima semuanya. ingin teriak dari keadaan ini, ingin lari dari kenyataan ini semuanya begitu rapat melekat dalam jiwa.
Di saat kurapuh dan entah apalagi yang harus ku perbuat ku ingin menyerah pada rasa sakit ini kuberjalan keluar. kududuk dikursi goyang yang sudah amat tua sejenak menikmati pemandangan yang tak asing lagi merasakan angin yang membelai wajahku, tak lama kemudian datang seorang kakek tua yang berpakaian lusuh menghampiriku dan berkata: “Bunga tak akan mekar jika tak disiram langit terlalu tua untuk mendapatkan jawabannya, hidup takkan berhenti sampai disini kejarlah mimpi sampai kau benar – benar bermimpi”.
Ibu membangunkanku untuk minum obat ternyata tadi hanya mimpi, yang mungkin adalah suatu pertanda entah apa pertanda itu, tapi aku penasaran apa maksud dari kata – kata si kakek tua tadi: bunga, langit, kehidupan aaah sudahlah… mungkin itu hanya bunga tidurku. Namun kenapa kata -kata itu terus terngiang di kepalaku memenuhi semua ruang otakku sehingga ku tak bisa untuk berfikir lain.
Hari berganti dan waktu pun terus berlalu tapi kata – kata itu masih mendekam di otakku sehingga aku mencoba untuk mencari arti dari sebuah kejadian ini, pagi ini kucoba untuk melangkahkan kaki namun jantung ini berdetak kencang sekali tak seperti biasanya mungkin karna takut atau lemahnya tubuh ini sehingga kaki pun terasa berat untuk melangkah, karna masih ada rasa penasaran dalam jiwaku untuk mencari jawabnya dari sebuah kata – kata yang mungkin berarti untukku. Ku coba untuk pergi, tujuanku ke jakarta tempat sekolahku untuk bertemu teman – teman yang sudah lama tidak pernah ada lagi kabarnya.
Saat ingin keluar dari rumah ternyata ibu melarangku untuk keluar karena khawatir kenapa – kenapa di jalan tapi ku jelaskan padanya “aku tidak akan berhenti mencari sebelum dapat jawabannya atau aku akan menyesal selama hidupku, melihat air mata jatuh berlinang rasanya ku tak tega juga tapi aku harus mendapatkan jawabnya.
Pagi yang tenang, matahari yang bersahabat senang rasanya berada disini untuk selalu menyapa sang mentari tiap pagi hari, saat berjalan diantara hamparan daun – daun yang melambai ternyata ada seseorang yang sedang menanam pohon, ia seorang yang menggunakan tongkat, untuk berjalannya aja susah tapi ia dengan gigih melakukan semua itu seakan – akan ia akan hidup seratus tahun lagi. Sejenak kuhampiri dan bertanya “mengapa kau baru menanam pohon segini banyak apakah kau akan menuai hasilnya dari apa yang kamu kerjakan sekarang ini” dan ia pun hanya tersenyum sambil berkata tak seorang pun bisa menentukan kan kapan ia pergi dari dunia ini, hasil adalah hanya bagian akhir dari usaha yang kita lakukan namun usaha adalah titik awal untuk menentukan hasil, apakah itu baik atau buruk semuanya tergantung pada usaha kita. Dan kenapa kau sudah memikirkan hasilnya saja sedangkan titik awalnya dulu tidak kau fikirkan, kau pun masih terlalu muda untuk dapat mengerti semua ini jalan masih panjang terbentang masih banyak rintangan yang harus kau lalui. Hidup tak semudah itu kawan butuh banyak perjuangan dan pengorbanan untuk melewatinya karena hidup bagaikan roda yang terus berputar entah kapan engkau akan diatas dan kapan kau akan dibawah semua itu mengalir seperti air yang tenang tapi menghanyutkan bila kau tidak waspada maka bersiap – siaplah kau akan tenggelam.

